Jumat, 28 Maret 2014

BENANG MERAH DESA LUBUK RUKAM DAN DESA GUNUNG BATU

Benang merah desa Lubuk Rukam - Desa Gunung Batu
Oleh : Iwan Mahmud Al-Fattah Azmatkhan
Sebelum terbentuknya desa Gunung Batu, Desa ini masih merupakan hutan lebat yang belum pernah dihuni oleh siapapun. Desa ini baru mulai terbentuk sejak kedatangan rombongan keluarga besar Kesultanan Demak, dengan salah seorang pimpinannya yang bernama Arya Penangsang bin Pangeran Sekar bin Raden Fattah. Perjalanan Panjang keluarga besar Keturunan Raden Fattah dilakukan secara rahasia demi menyelamatkan garis keturunan Raden Fattah yang pada masa itu banyak diincar oleh fihak-fihak yang tidak senang akan berdirinya khilafah islamiah.
Perjalanan Arya Penangsang dan beberapa bangsawan Kesultanan Demak ini didampingi oleh beberapa ulama besar dan juga salah seorang anak Sunan Kudus yang bernama Amir Qodhi/Pangeran Qodhi/Syekh Qodhi/Pangeran Ogan Komering. Sebagai kakak ipar dari Arya Penangsang, Amir Qodhi diperintahkan ayahnya untuk mengawal perjalanan yang penuh rahasia ini. Perjalanan ini juga dianggap sebagai hijrah besar keluarga Jipang Panolan kesebuah negeri yang belum mereka kenal. Hijrah ini juga mengingatkan akan hijrahnya para leluhur Raden Fattah, dan rata-rata ketika mereka hijrah itu didasari dengan semangat jihad dan dakwah Islamiah dan menghindari adanya kezaliman dan penindasan yang dilakukan para tirani.
Saat mereka berhasil keluar dari Jipang Panolan dan Demak dan kemudian tiba di Komering, mereka semua berganti nanti. Arya Penangsang menjadi Ratu Sahibul Ma'rifah sedangkan Pangeran Qodhi menjadi Pangeran Ogan Komering. Perjalanan dari Jipang Panolan sampai ke Komering dilakukan dengan sangat hati-hati dan rahasia,. apalagi ini dalam jumlah rombongan yang besar. Beberapa keluarga Kesultanan Demak mengetahui perjalanan ini, namun mereka semua memaklumi apa yang sedang dilakukan anak cucu dari Pangeran Sekar Seda Lepen ini.
Perjalanan ini berjalan dengan sukses dan lancar, adapun berita tentang kematian Arya Penangsang di pulau Jawa justru merupakan strategi cerdas keluarga besar Raden Fattah, karena dengan adanya kabar bahwa Arya Penangsang sudah dinyatakan tewas, maka perjalanan ini justru semakin lancar, karena tidak ada yang mengikuti. Sekalipun dibeberapa buku sejarah, paska kabar tewasnya Arya Penangsang, justru ada beberapa rakyat dari blora yang melihat bahwa beliau masih hidup. Berita perjalanan Arya Penangsang memang sangat misterius, sampai sekarang masyarakat Cepu dan Jipang sangat tabu untuk membicarakan bagaimana sebenarnya sejarah Arya penangsang itu. ini bukti bahwa Arya Penangsang telah berhasil menanamkan perintah agar jati dirinya jangan pernah diangkat apalagi dibicarakan oleh rakyatnya, karena apabila keberadaan dirinya dibicarakan terus menerus bukan tidak mungkin ia akan terus diburu oleh orang-orang yang tidak senang syariah islam berjaya.
Saat terbentuk Desa Gunung Batu antara Kurun waktu 1549 s/d 1556 Masehi, Arya Penangsang atau Ratu Sahibul mendapat firasat jika tanah ini kelak akan menjadi besar, apalagi setelah melihat kondisi daerah ini yang sangat mirip dengan desa asalnya Jipang Panolan, membuat beliau yakin bahwa desa ini adalah pelabuhan selanjutnya dalam menata kehidupan. Desa Gunung Batu memang sangat mirip dengan Jipang Panolan, tanahnya berpasir, sungainya besar, ikilimnya panas, tanahnya subur, sehingga sangat wajar jika daerah ini dipilih menjadi pijakan keluarga besar kesultanan Demak.
Setelah Desa terbentuk maka, Ratu Sahibul bersama para bangsawan lain mulai memperkuat desa ini dengan ajaran islam, membuat pagar pertahahan, dan melakukan penanaman buah buahan atau tanaman-tanaman seperti padi untuk untuk dijadikan sebagai lumbung logistik desa ini.
Saat desa Gunung Batu berkembang, hubungan diplomasi dan komunikasi juga diadakan dengan wilayah lain. Pada masa Gunung Batu berdiri banyak bangsawan-bangsawan dari wilayah lain berdatangan dan melakukan aliansi dengan desa ini. keberadaan ini akhirnya juga diketahui oleh keturunan Sultan Trenggono sehingga akhirnya salah satu keturunannya yang bernama Pangeran MAs Ibrahim (Banten) datang kedesa ini untuk membantu kakek dan paman-pamannya.
Gunung Batu semakin berkembang, itu karena berkat kerjasama antar leluhur dan juga wilayah lain. Adapun tokoh-tokoh atau wilayah lain yang pernah membina hubungan baik dengan Desa Gunung Batu adalah :
1. Pangeran Ogan Komering/Amir Qodhi/Syekh Qodhi/Pangeran Kodhi/Puyang Kedun Lubuk Rukam bin Sunan Kudus Azmatkhan
2. Ki Ageng Mataram V/Sayyid Mahmud Jumadhil Kubro Azmatkhan dari Desa Lubuk Rukam
3. Tuan Umar Baginda Saleh Azmatkhan (Waliyullah Tanah Komering)
4. Tuan Di Pulau/Sayyid Hamimul Hamim (Waliyullah tanah Komering)
5. Tuan Idrus AL Idrus Tanjung Salam dari Adumanis (Waliyullah Tanah Komering)
6. Bangsawan Abung dari Lampung
7. Bangsawan dari Skala Brak
8. Bangsawan dari Malaka
9. Bangsawan bangsawan dari Jawa Barat
10.Bangsawan - bangsawan Komering
11.Beberapa bangsawan pendiri kesultanan Palembang
12.leluhur Masyarakat Indralaya Ogan Ilir Sumatra Selatan
13.leluhur desa Gunung Ibul Prabumulih Sumatra Selatan
Dan masih banyak lagi yang lainnya...ini menandakan jika desa ini mempunyai hubungan komunikasi yang baik dengan masyarakat di sekitar wilayah komering dan menandakan jika penyebaran Islam juga berkat andil dari keluarga besar Raden Fattah, Walisongo dan Keluarga Besar Nabi Muhammad SAW yang lain .
Karya Ulung
Karia Ulung adalah kepala desa pertama Desa Gunung Batu Kecamatan Cempaka, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Sumatra Selatan. Karia Ulung atau Karia Daud atau Sayyid Daud atau Pangeran Ali adalah Kepala Desa pertama dari desa Gunung Batu ini. Sama seperti ayahnya Karia Ulung ini mempunyai banyak kelebihan, sehingga dia akhirnya dijuluki dengan julukan Karia Ulung. Karia Ulung adalah seorang yang paling dibanggakan oleh ayahnya dalam hal strategi perang. Karia Ulung ini sosoknya tinggi besar dan mempunyai pedang seperti Sayyidina Ali, bercabang dua. Dimata adik-adiknya Karia Ulung ini sangat berwibawa dan dihormati, sehingga tidak heran akhirnya dia dipercaya menjadi kepala Desa Pertama Desa Gunung Batu ini. Desa Gunung Batu ini posisinya sangat terpencil dari Palembang. Pada masa lalu cukup sulit untuk sampai kedesa ini. Karakter seorang Karia Ulung tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Ketegasan dan ketegarannya cukup menonjol. Sikap keras hatinya terhadap kebenaran sangat terasa dimata adik-adiknya.
Dalam memerintah desa Gunung Batu, Karia Ulung sangat tegas namun berwibawa. Desa Gunung Batu betul-betul ia tata sebagai desa yang independent terhadap pemerintahan lain. Dari awalnya sejak desa ini didirikan, desa ini sudah berbentuk independent, namun tetap para tokoh-tokoh desa ini menjalin persahabatan dengan fihak lain. Ajaran Islam selalu diterapkan dengan sangat ketat. Terhadap beberapa adiknya saja dia bisa bersikap tegas apalagi ketika ada dari mereka yang tidak bersikap Islami. Ketika ada beberapa fihak yang coba mengintervensi desa ini, dia bahkan berani bersikap tegas, bagi dia keberadaan desa Gunung Batu tidak boleh terjajah oleh siapapun. Desa ini akhirnya dibuat pagar-pagar pertahanan agar bisa menghalau fihak-fihak yang mau menjajah. Desa Gunung Batu tidak akan pernah menjajah wilayah lain, namun jangan coba menjajah Desa ini, itu prinsip para tokohnya. Gunung Batu adalah daerah yang independent namun terbuka untuk pendatang. Semenjak didirikan desa ini beberapa keluarga Sunan Kudus pernah berkunjung ketempat ini seperti Pangeran Ogan Komering atau Syekh Qodhi / Kedun yang juga paman Karia Ulung. Begitu juga keluarga besar Jumadhil Kubro dari desa lubuk Rukam. Gunung Batu adalah wilayah Islam yang tidak boleh diutak atik oleh siapapun, dan prinsip ini dipegang teguh oleh Karia Ulung dan juga para pendiri desa lain seperti Pangeran Mas Ibrahim Azmatkhan (Komering), Pangeran Mas Asad Hamzah Azmatkhan (Singagandung), Kyai Patih Matahun bin Pangeran Bagus Sido Kali bin Raden Fattah, Jangkaru (leluhur Riyani Jangkaru) dan tokoh-tokoh lain.
Pangeran Ogan Komering atau Syekh Qodhi / Puyang Kedun Lubuk Rukam adalah Adik ipar Ratu Shahibul dan merupakan mertua dari Karya Ulung.
Pada tahun 1633 Karia Ulung wafat di Desa Gunung Batu. Karya Ulung wafat meninggalkan 12 anak. 10 laki-laki dran 2 orang wanita. Dua Belas anak Karia Ulung ini kemudian banyak yang menyebar keberbagai wilayah Sumatra. Satu anaknya tetap yang bernama Sulaiman melanjutkan pemerintahan dengan bergelar Karia Sulaiman. Sedangkan yang lain dari desa Gunung Batu yang terpencil ini, 9 orang anak laki-laki Karia Ulung tersebut menyebar keberbagai daerah, ada yang ke Jawa Barat, Sumatra Barat, ada yang ke Sumatra Utara, ada yang ke Palembang dan sekitarnya, ada juga yang di Aceh. Dan berdasarkan kitab Nasab Al Mausuu’ah Li Ansaabi Al Uimam Al Husaini, diketahui banyak dari keturunan dari Karia Ulung ini menjadi pejuang-pejuang militan dalam penegakkan Syariah Islam. Mereka yang sebagian ada di Sumatra banyak yang merupakan musuh penjajah kafir pada masa lalu. Beberapa dari mereka bahkan ada yang dihukum mati dan dibuang keberbagai daerah. Beberapa dari yang militan itu bahkan banyak yang ditakuti tentara Penjajah Kafir. Sikap militan mereka terhadap Islam sepertinya memang mewarisi sikap datuk-datuknya. Dalam hal kebenaran, ajaran Islam adalah harga mati yang tidak bisa ditawar tawar. Sikap militan mereka terhadap penjajah dan rezim-rezim pemerintahan seolah membuktikan, seperti itulah dulu datuk-datuk mereka berjuang.

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. siapa tahu yang melarikan diri ke palembang adalah arya mataram, adik arya penangsang. karna sammpai sekarang, makam arya mataram tidak pernah ditemukan

    BalasHapus
  3. sesuai dengan cerita yg saya dengar, semoga dalam waktu dekat saya bisa ziarah ke makam beliau...

    BalasHapus
  4. Siapa nama Kakak dari kiaji barlian? Mohon pencerahannya terima kasih

    BalasHapus
  5. Anak-anak Depati Rembang adalah Mat Asi, Sinjar, Pangeran Merjan, Melur dan Melati. Kyai Haji Berlian adalah keturunan dari Pangeran Merjan. Ini berdasarkan kutipan pohon silsilah keluarga kami anak cicit Puyang Sinjar yang menikah dengan H. Yasir dari Mendale.

    BalasHapus